Kamis, 14 April 2011

Makalah Sifat Qana'ah


I.            PENDAHULUAN

Manusia seringkali lupa atas nikmat yang allah berikan, karena kebanyakan manusia melupakan dan selalu merasa kurang atas apa yang ia miliki, sehingga ia selalu diliputi perasaan iri dan dengki atas nikmat yang orang lain dapatkan, dan menjadikan kehidupanya tidak tenang. Hal ini merupakan kecendrungan manusia yang selalu tidak akan merasa puas dengan apa yang ia miliki. Sabda nabi SAW;
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى الثَّالِثَ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ   رواه احمد
Artinya ; Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah (terisi) dari emas, pasti ia mengingkinkan lembah ketiga; tidak ada yang mengisi perut anak Adam kecuali tanah, serta Allah meneriman taubatnya orang yang mau kembali kepada-Nya. (HR. Ahmad)

Padahal jika kita mau mensyukuri apa yang ada pada diri kita, terlebih lagi memahami bahwa semua yang ada didunia ini hanyalah titipan dan cobaan Allah semata niscaya menjadikan kita lebih berfikir bijak dan tenang dalam menghadapi gejolak kehidupan. Sabda Nabi saw ;
وعن عبد الله ابن عمرو رضى الله عنهما : ان رسول الله صلعم. قال: قد افلح من اسلم ورزق كفافا وقنعه الله بما اتاه. رواه مسلم[1]
Artinya; Rasulullah saw bersabda; sungguh untung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah. (HR Muslim)

Sebagai manusia kita memang mempunyai banyak kebutuhan, baik kebutuhan materil maupun imateril, makalah ini kami ingin mencoba mengungkapkan bagaimana seharusnya kita sebagai manusia menyikapi kebutuhan kita, terlebih dalam menyikapi kebutuhan harta.


II.         PEMBAHASAN

Qana’ah menurut bahasa adalah ridho, sedangkan menurut istilah ialah menerima ketika dalam ketiadaan,[2] Sesungguhnya Allah telah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal bagi kita selaku hamba Allah. Dan apa yang ada diatas bumi ini seperti pakaian, makanan, minuman, pernikahan dan lain-lain merupakan santapan badan kita yang sedang berjalan kepada Allah. Barangiapa di antara manusia yang memanfaatkan semua itu menurut kemaslahatannya dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah, maka itu adalah perbuatan yang terpuji. Dan barangsiapa yang memanfaatkannya melebihi apa yang dia butuhkan karena tuntutan kerakusan dan ketamakan maka dia pantas untuk dicela.
Diantara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah terperdayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya,dalam apa yang dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah,Sang Maha Pemberi Rezeki itu sendiri.

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى الثَّالِثَ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ   رواه احمد
Artinya ; Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah (terisi) dari emas, pasti ia mengingkinkan lembah ketiga; tidak ada yang mengisi perut anak Adam kecuali tanah, serta Allah meneriman taubatnya orang yang mau kembali kepada-Nya. (HR. Ahmad)

Ia merasa justru kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah. Orang-orang yang terlalu mencintai kenikmatan dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan segala cara: kelicikan, bohong, mengurangi timbangan dan sebaginya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian sebagaimana firman Allah ;
Artinya ;"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami ia berkata:"Sesungguhnya aku diberi ni'mat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakanmereka itu tidak mengetahui" (Q.S Azumar; 49)

Ayat tersebut mengindikasikan adanya orang –orang yang tidak tepat dalam menyikapi harta dan dunia yang diberikan kepadanya.Ia menyangka,ketentraman hidup ditentukan oleh banyak dan tidaknya harta yang dimiliki besar kecilnya tempat tinggal,tinggi rendahnya kedudukan dan pangkat yang disandangnya.
Rasulullah saw adalah seorang yang sempurana akal dan budi pekertinya, sehingga dalam firmanNya Allah swt memuji serta agar manusia mengambil suri tauladan dari beliau, firman Allah;
Artinya ; sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.. (Q.S al-Ahzab; 21)

Salah satu sifat terpuji yang dimiliki beliau adalah sifat Qana’ah, yaitu menerima dengan suka hati dan Ridha atas apa-apa yang diberikan Allah kepada beliau,  beliau mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta, yaitu menyikapi harta dengan sikap Qana’ah (kepuasan dan kerelaan). Sikap Qana’ah ini seharusnya dimiliki oleh orang yang kaya maupuan orang yang miskin adapun wujud Qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara, sehingga dengan semua itu akan melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Sabda Nabi saw :
عن ابى هرىرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس. متفق عليه[3]
Artinya ;Abu Hurairah R.A berkata ; bersabda Nabi SAW ; bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hati. (Muttafaqun Alaih)

Diceritakan bahwa ketika sahabat Umar bin al-Khottob melihat apa yang telah dicapai oleh orang-orang dari kekayaan dunia, ia berkata ;saya telah melihat rasulullah adakalanya sehari penuh lapar dan tidak menemukan walaupun buah kurma yang paling buruk untuk mengisi perutnya.[4]
Perbuatan Qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap apa yang kita miliki saat ini, Maka hendaklah dalam masalah keduniaan kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah dalam sebuah hadits:
عن ابى هريرة رضى الله عنه : قال رسول الله صلعم. انظروا الى من اسفل منكم, ولا تنظروا الى من هو فوقكم فهو اجدر ان لا تزدروا نعمة الله عليكم. متفق عليه
Artinya; “Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)
Maksudnya dalam hal dunia kami diajarkan memperhatikan orang yang lebih rendah, supaya dapat menghindarkan kerisauan hati dan sifat tamak, tetapi dalam hal akhlak dan budi pekerti serta ketaatan kepada allah harus melihat kepada orang yang lebih taat, dan berbudi dari kamu, untuk menimbulkan rasa keinginan menambah ketaatan, dan bakti kepada allah.[5]
Hujjatul Islam imam al-Ghazali mengatakan ada tiga cara mengatasi tamak harta dan penumbuh sifat Qona’ah yaitu ;[6]
1.      Dengan amal, yaitu berhemat dalam penghidupan dan bersikap sederhana dalam pembelanjaan. Maka siapa yang ingin dengan mulia dengan sikap qona’ah hendaklah ia menyedikitkan dalam pengeluaran dan nafkah.
2.      Pendek angan-angan supaya tidak goyah kerena kebutuhan dan keadaan. Karena panjangnya angan-angan dapat menutupi rasa syukur atas apa yang ia miliki.
3.      Dengan memahami bahwa dalam qona’ah terdapat kemulian, kemudahan dan kebebasan dari meminta-minta dan perasaan akan hinanya ketamakan.

Ketika berusaha mencari dunia,orang-orang Qana'ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong dan mengurangi timbangan. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rizki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari akhir rizki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala dihadapan Allah.
Meski demikian,orang-orang yang memiliki sikap Qana'ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang hidup Qana'ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap Qana'ahnya dan mempertebal rasa Syukurnya.
Tidak tamak terhadap harta  itulah yang menyebabkan keihklasan dalam beramal, yang akan membawa kasih sayang allah, serta tidak mengharapkan hak orang lain itu akan menmbulkan kasih sayang sesama manusia, diceritakan bahwa baginda nabi me
Bila kita mampu merenungi dan mengamalkan makna dan pentingnya Qona’ah maka kita akan memperoleh ketengan dan ketentraman hidup.
III.             KESIMPULAN

Sifat Qonaah adalah termasuk kecerdasan hati dalam menyikapi dunia, yaitu merasa cukup atas apa-apa yang kita miliki, dan selalu berfikir bahwa segala sesuatu adalah ujian dari allah dan semuanya akan kembali kepadaNya.
Qonaah bukan berarti bersikaf fatalis dengan tidak mau berusaha mencari rizki, akan tetapi Qonaah adalah keadaan hati yang rela dan syukur atas Nikmat yang Allah berikan baik banyak maupun sedikit.



IV.             DAFTAR PUSTAKA

Imam Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, diterjemahkan oleh Zaid Husein al  
hamid, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Jakarta ; Pustaka Amani, 1995.

Abu Zakariya Yahya, Riyadus salihin, diterjemahkan oleh; H. salim Bahreisy, Bandung; Alma’arif, 1987


[1] Hadits tersebut dikutip oleh syaikh Muhyiddin abu zakariya yahaya, dalam Riyadhus Shalihin hlm 89
[2]Sayid Abdillah ibn Husain, Sulamu at-Taufiq hlm. 60
[3] Riyadhus shalihin Abu Zakariya Yahya, Riyadus salihin, diterjemahkan oleh; H. salim Bahreisy, Bandung; Alma’arif, 1987hlm 236
[4]. Ibid, hlm 385
[5] Ibid, hlm. 382
[6] Imam Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, diterjemahkan oleh zaid husein al hamid, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Pustaka Amani, Jakarta, 1995 Hlm 217

Rabu, 13 April 2011

Tujuan Pendidikan Menurut Al- Ghazali


I.                   Pendahuluan

Pembahasan tentang ilmu pendidikan tidak mungkin terbebaskan dari obyek yang menjadi sasaranya, yaitu manusia. Manusia adalah mahkluk pedagogik, yaitu makhluk yang membawa potensi dapat didik dan mendidik, sehingga mampu menjadi khalifah di bumi, sebagai pendukung dan pengembang kebudayaan.[1]
Hal ini dapat difahami karena Allah swt melengkapi manusia dengan akal dan perasaan yang memungkinnya menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membudayakan ilmu yang dimilikinya. Ini membuktikan bahwa kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia itu adalah karena (1) akal dan perasaan, (2) ilmu pengetahuan dan (3) kebudayaan, yang semuanya dikaitkan dengan pengabdian pada sang pancipta, Allah swt.[2]
Meskipun demikian kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan.
Teori Nativis dan Empiris yang dipertemukan oleh Kerschentiner dengan teori Konvergensinya, telah ikut membuktikan bahwa manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan pendidikan dan pengajaran potensi itu dapat dikembangkan manusia, meskipun ia lahir seperti kertas putih dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses tertentu yaitu proses pendidikan.
Pendidikan Islam berarti pembentukan pribadi muslim, isi mulsim itu adalah pengamalan sepenuhnya ajaran Allah dan rasulNya. Dan hal ini tidak bisa dicapai tanpa adanya proses pengajaran dan pendidikan.
Dari pengertian tersebut tergambar jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan islam secara keseluruhan, yaitu terbentuknya kepribadian manusia yang utuh rohani dan jasmani. Hal ini mengandung pengertian bahwa pendidikan islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat serta pengamalan ajaran islam dalam berhubungan kepada Allah dan manusia.

II.                Kajian Pustaka

a.       Biografi al-Ghazali

Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai, maka dalam pendidikan karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan, tujuannya pun bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek keidupanya.
Tujuan pendidikan secara umum yaitu menjadikan peserta didik dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan bila kita merujuk pada tujuan pendidikan di negara kita seperti yang tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954, terutama pasal 3 dan pasal 4 yang berbunyi sebagai berikut ;
Pasal 3        :
Tujuan pendidikan dan pengajaran, ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Pasal 4        :
Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas asas-asas yang termaktub dalam pancasila undang-undang dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia.

Sejalan dengan perkembangan sejarah dan pembangunan Negara dan bangsa Indonesia, maka rumusan tentang tujuan pendidikan seperti tercantum dalam undang-undang nomor 12 tahun 1954 mengalami perubahan meskipun esensinya adalah sama.
Dalam GBHN 1983-1988 tujuan pendidikan dinyatakan sebagai berikut.
Pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan yang Mahaesa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat menumbuhkan  manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.



Pendidikan islam itu berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini berakhir

III.             Pembahasan

Rumusan tujuan pendidikan harus beorientasi pada tujuan dan tugas hidup manusia, yaitu sebagai hamba dan wakil Allah dimuka bumi. Sehingga melalui pendidikan, diharapkan seseorang akan mencapai kesadaran pemikiran yang mampu menjamin kesejatian dirinya  (being) dalam   mengemban   amanatnya   sebagai   abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi ini untuk menjaga dan sekaligus memakmurkannya.[3]
Al-Ghazali mengemukakan, tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.  (Abuddin Nata : 2005:212 ).
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin dijelaskan bahwa:

أن ثمرة العلم القرب من رب العالمين

Hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.[4]


إفادة العلم وتهذ يب النفوس الناس عن الأخلاق المذمومة المهلكة وإرشادهم إلى الأخلاق المحمودة المسعدة وهو المرد بالتعليم

Memfaidahkan ilmu dan membersihkan jiwa manusia dari perangai tercela dan lalu menunjukkan mereka kepada perangai (akhlak) yang terpuji dan menjadikan bahagia, itulah yang dimaksud pengajaran.[5]

والمعلم مشتغل بتكميله وتجليته وتطهيره وسياقته إلى القرب من الله عزوجل

Seorang pendidik sibuk memperbaiki, membersihkan, menyempurnakan dan mengarahkan hati agar selalu dekat kepada Allah swt.[6]

Seorang guru dan pelajar memang hendaknya mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah. Maka, selama bathin tidak dibersihkan dari hal-hal yang keji, ia pun tidak akan menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu.[7]
Jika kita perhatikan kutipan di atas, kata “hasil” menunjukkan proses, kata “mendekatkan diri kepada Allah” menunjukkan tujuan, dan kata “ilmu” menunjukkan alat. Sedangkan pada kutipan kedua merupakan penjelasan mengenai alat, yakni disampaikan dalam bentuk pengajaran. Oleh karena itu, orang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah memperoleh ilmu pengetahuan, sedangkan pengetahuan itu sendiri tidak akan diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran. Sedangakan inti dari pengajaran adalah pembinaan mental dan pembersihan jiwa. Dengan harapan akan membuahkan perbaikan moral dan taqwa bagi diri individu atau kesalehan individual yang akhirnya akan menyebar di tengah-tengah manusia atau terbentuknya kesalehan sosial. Sehingga pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada usaha mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan tujuan hidup manusia menurut Al-Ghazali, yaitu:

أن مقاصد الخلق مجموعة في الدين والدنيا ولانظام للدين إلا بنظام الدنيا فإن الدنيا مزرعة للآخرة وهي الآلة الموصلة إلى الله عز وجل لمن التخذها آلة ومنزلا لا لمن يتخذها مستقرا ووطنا

Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunia. Dan agama tidak terorganisir selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Yaitu alat yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang mengambilnya (dunia) sebagai alat dan persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat menetap dan tanah air.[8]]

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Al-Ghazali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan; (a) mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah Swt.; (b) mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.  Kebahagiaan dunia akhirat merupakan sesuatu yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai universal, abadi dan lebih hakiki. Sehingga pada akhirnya orientasi kedua akan sinergis bahkan menyatu dengan orientasi yang pertama.  Dengan demikian, Al-Ghazali dalam merumuskan tujuan pendidikan sesuai dengan orientasi tujuan hidup manusia secara makro, yaitu kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
Al-Ghazali juga menjelaskan, bahwa manusia untuk beramal harus melalui beberapa tahapan, yang salah satunya yaitu; pengetahuan (ilmu). Memang kenyataannya demikian, manusia untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah mutlak membutuhkan pengetahuan kemudian dinternalisasikan dalam dirinya utntuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat relevan jika Al-Ghazali menegaskan bahwa:

ولن يتوصل إليها إلا بالعلم والعمل ولا يتوصل إلى العمل إلا بالعلم بكيفية العمل فأصل, السعادة فى الدنيا والأخرة وهو العلم

Manusia tidak akan mencapai tujuan hidupnya kecuali melalui ilmu dan amal. Dan tidak akan beramal kecuali dengan mengetahui cara pelaksanaan amal, dengan demikian pangkal kebahagian di dunia dan akhirat, sebagai tujuan hidup adalah ilmu.[9]
Oleh karena itu, tujuan pendidikan jangka panjang Al-Ghazali adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam. Sedangkan tujuan pendidikan jangka pendek Al-Ghazali adalah terwujudnya kemampuan manusia melaksanakan tugas-tugas keduniaan dengan baik sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Bekal tersebut dapat diperoleh dengan mengembangkan potensi diri melalui ilmu pengetahuan, baik yang fardu ‘ain maupun fardu kifayah. Dengan kemampuan yang diperoleh dari ilmu pengetahuan tersebut, kita akan melaksanakan tugas keduniaan secara professional.

IV.             Kesimpulan
Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus melalui bebrapa tahapan salah satunya pendidikan dan pengajaran untuk memperoleh pengetahuan (ilmu) yang kemudian dijadikan alat untuk mencapai tujuan tersebut, oleh karena itu tujuan pendidikan jangka panjang menurut al-Ghazali adalah merupakan proses mendekatkan diri kepada tuhannya.
Seorang pencari ilmu hendaknya mempunyai niat yang lurus yaitu untuk mencari keridhaan Tuhannya, bukan untuk mencari kedudukan di dunia, karena dapat menjadikan ia bertambah jauh dengan Tuhannya.
Oleh karena itu tujuan pendidikan menurut al-Ghazali sesuai dengan orientasi tujuan hidup manusia secara makro yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Ghazali-Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, diterjemahkan oleh Zaid Husein al-Hamid, Ringkasan Ihya Ulumuddin, (Jakarta; Pustaka Amani, 1995).

_________________, Ihya’ ‘Ulumuddin, Juz. I (Kairo: Dar al-Kutub al-Arabiyah, tt)

Tim Dosen IAIN Sunan Ampel Malang, Dasar-dasar Kependidikan Islam, Suatu Pengantar Ilmu   Pendidikan Islam (Surabaya: Karya Abditama, 1996)


Zakiyah Darajat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta; PT. Bumi Aksara,2006)


[1] Zakiyah Darajat, dkk. Ilmu Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta; 2006.hlm 16
[2] Ibid hlm 4
[3]  Tim Dosen IAIN Sunan Ampel Malang, Dasar-dasar Kependidikan Islam, Suatu Pengantar Ilmu   Pendidikan Islam (Surabaya: Karya Abditama, 1996), hlm. 63
[4]   Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Juz. I (Kairo: Dar al-Kutub al-Arabiyah, tt), hlm. 13
[5] Ibid, hlm 14
[6] Ibid,
[7] Imam Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, diterjemahkan oleh Zaid Husein al-Hamid, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Pustaka Amani, Jakarta, 1995 Hlm 8
[8] Ibid hlm 13
[9]  Ibid,

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates